Magelang – Akademi Militer (Akmil) menyelenggarakan Seminar Program Studi Teknik Mesin Pertahanan pada Rabu (20/5/2026) di Gedung Moch. Lily Rochly. Kegiatan yang dihadiri oleh unsur pimpinan Akmil, akademisi, mahasiswa, serta para pakar di bidang teknologi dan pertahanan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman serta merumuskan langkah strategis dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional di era perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Seminar dibuka secara resmi oleh Gubernur Akmil dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Akmil, pejabat Distribusi A Akmil, perwakilan dosen dari berbagai program studi, Taruna Prodi Niksinhan, serta akademisi dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma), Universitas Tidar (Untidar), Universitas Bina Patria, dan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjaya) Yogyakarta.

Kegiatan menghadirkan Prof. Ir. Yun Arifatul Fatimah, M.T., Ph.D. sebagai keynote speaker serta Prof. Dr. Muji Setiyo, S.T., M.T. sebagai narasumber. Jalannya seminar dipandu oleh moderator Pristi Sukmasetya, S.Kom., M.Kom.

Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pembagian seminar kit, dilanjutkan dengan pembukaan acara, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, laporan kesiapan seminar, serta sambutan Gubernur Akmil yang sekaligus menandai pembukaan resmi seminar. Setelah sesi penyerahan cinderamata dan foto bersama, kegiatan berlanjut ke sesi ilmiah yang meliputi penyampaian materi oleh keynote speaker dan narasumber, diskusi interaktif, serta penyusunan resume hasil seminar.

Dalam seminar tersebut, para peserta memperoleh berbagai wawasan strategis terkait pengembangan industri pertahanan nasional, penguasaan teknologi pertahanan modern, serta pentingnya kolaborasi antara dunia akademik, industri, dan institusi militer. Berbagai gagasan yang muncul dalam forum ini juga menyoroti perlunya kesiapan bangsa dalam menghadapi dinamika ancaman global yang semakin kompleks melalui inovasi dan riset berbasis teknologi nasional.

Hasil seminar menunjukkan meningkatnya pemahaman peserta mengenai pentingnya kemandirian industri pertahanan nasional, kebutuhan penguasaan teknologi strategis, serta penguatan sinergi lintas sektor dalam mendukung pengembangan sistem pertahanan modern. Selain itu, seminar juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan teknologi pendukung lainnya.

Sebagai tindak lanjut, seminar merekomendasikan percepatan pembangunan ekosistem teknologi pertahanan nasional berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), keamanan siber, dan sistem otonom melalui peningkatan investasi riset dan pengembangan teknologi strategis. Forum juga menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara TNI, perguruan tinggi, industri strategis, dan lembaga penelitian dalam mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional.

Selain itu, pembangunan infrastruktur strategis diharapkan menerapkan konsep dual-use building dan multi-hazard redundancy guna menjamin keberlangsungan fungsi negara dalam berbagai situasi darurat. Di bidang sumber daya manusia, lembaga pendidikan pertahanan didorong untuk memperkuat kurikulum teknologi pertahanan modern yang mencakup digital engineering, robotika, kecerdasan buatan, predictive maintenance, dan smart defense technology guna menghasilkan personel pertahanan yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan peperangan masa depan.

Kegiatan seminar berlangsung dengan tertib, aman, dan lancar, serta ditutup dengan penyerahan sertifikat secara simbolis, foto bersama, dan ramah tamah yang dilanjutkan dengan makan siang bersama di Rukan Hussein.